Surat Cinta Paling Romantis
Posted on: December 31, 2014, by : Vega Aminkusumo
ayah-siaga-siap-antar-jaga

Maseri, ingat tidak, ketika aku mau lahiran anak pertama? Kita seharian bersama di rumah sakit, menjalani hari yang begitu membosankan namun terasa cepat, dari menjelang subuh sampai menjelang magrib. Dan ketika hampir tiba saatnya, dirimu entah di mana. “Suster, suami saya di mana?” Suster lalu sibuk mencarimu. ?Bahagia ?rasanya, ketika melihatmu akhirnya masuk ke ruang persalinan. Sebenarnya kesal melihatmu begitu tenang, apalagi dirimu masih saja bisa bercanda. Tapi itu membuatku tenang, dan kita melewati proses persalinan dengan tawa. Kita mengakhiri kehamilan pertama bersama-sama, tanganmu menggenggam tanganku.

Aku masih ingat, 13 tahun yang lalu, program asi eksklusif belum sepopuler saat sekarang. Dan yang membuatku bisa tenang dan yakin untuk memberi ASI esklusif ke anak kita, karena dirimu mempercayaiku. Tidak mudah, karena itu bukan tradisi yang di wariskan dari orang tua kita. Tapi semua terasa mudah, dan berhasil karena aku tidak merasa sendiri. Dirimu tidak pernah sedetik pun meragukanku. Dan aku bahagia sekali bisa begitu dekat dengan bayiku.

Maseri ingat tidak, ketika akhir kehamilanku yang kedua, kita baru pindahan belum 10 hari? Suasana baru, lingkungan baru, dan kehamilanku terlanjur rembes, harus segera ke rumah sakit. ?Itu hari Minggu, dan dirimu harus mencari taksi dulu. Sampai kesal hati, melihatmu begitu tenang, tanpa terlihat kuatir, sementara aku sudah mau menangis karena khawatir ?terlambat penanganan.

Hampir 7 tahun sejak kehamilan pertama. Bagiku serasa baru kali pertama melahirkan lagi. Dengan kondisi yabg tidak biasa, itu adalah persalinan terberat yang pernah aku alami. Merasakan induksi dengan dosis tinggi karena air ketuban sudah mulai berwarna hijau, detik-detik kontraksi serasa penderitaan panjang yang mau tdk mau harus dinikmati. Dan dirimu, walaupun terlihat begitu tenang, namun jelas terlihat bingung, musti bagaimana. Dalam hati aku kesal karena dirimu tidak bisa membantu mengurangi rasa sakitku.

Masih terasa jelas setiap mengingat saat itu, betapa bersyukurnya aku, akhirnya bisa melahirkan normal dikehamilan kedua. Ketika dirimu mengiyakan untuk memilih sesar, karena aku menyerah menahan sakit induksi. Semuanya berjalan begitu cepat setelah induksi dihentikan, dan tanpa terasa kita mengakhiri kehamilan kedua, bersama-sama di ruang persalinan. Tanganmu menggenggam tanganku, menyaksikan bayi perempuan kita lahir.

Aku masih ingat, ekspresi luapan kegembiraanmu, menciumi bayi mungil kita. Entah apakah karena jarak yang terlalu jauh dengan anak pertama, ataukah karena dia bayi perempuan yang cantik, atau karena bahagia melewati saat saat sulit persalinan yang tidak biasa. Malam itu seperti mimpi bagiku. Setelah sesiangan aku begitu pesimis dan nyaris menyerah, tapi malam itu aku bisa istirahat dengan tenang, tanpa luka sesar di rahim. Kita melewatinya bersama sama lengkap dengan isak tangis dan senyum bahagia.

Yang paling mengesalkan mungkin ketika kehamilan ketiga. Ingat tidak, saat itu pagi yang cerah, dengan rutinitas seperti biasa. Dan tanpa sadar kontraksi kehamilanku sudah tiap 10 menit…

Perjalanan jagakarsa jatinegara yang biasanya macet, hari itu begitu lancar. Dan aku sepanjang perjalanan dalam taksi berdoa, jangan sampai melahirkan di taksi. Aku sepanjang jalan menimbang, apakah berhenti di rumah sakit terdekat atau tidak. ?Lagi-lagi dirimu begitu tenang, sambil sesekali tertidur sesaat. Iya sesaat saja, karena tiap kontraksi datang, aku selalu membangunkanmu, dengan penuh kesal dalam hati, karena membiarkan aku menderita sendiri.

Lagi-lagi kita mengakhiri kehamilan bersama-sama di ruang persalinan. Masih ingat, kan, waktu itu, begitu tiba di rumah sakit, suster langsung menyiapkan ruang persalinan, karena kondisinya memang sudah siap lahir.

Seolah semua sudah diatur, walaupun itu menjadi persalinan tercepat, tapi dokter bisa kembali ke rumah sakit, tepat waktu. Seolah semua sudah diatur, walaupun saat itu sudah siap lahir, tapi bauimu terlilit tali pusat, jadi harus dibantu dokter agar bisa turun keluar. Bayimu memang punya cara sendiri, menolak lahir di taksi. Dan kita mengakhiri kehamilan ketiga, bersama. Tanganmu menggenggam tanganku, dan semua berjalan lancar. Sangat lancar dan cepat karena kita tidak melewati masa penantian panjang menunggu lahiran 🙂

3 anak cukup ya mas. Kita sama sama terus ya, sampai nanti. Karena sikap tenangmu, walaupun seringkali terlihat mengesalkan…, tp sangat membantuku untuk lebih tenang mengasuh anak2mu.

Janji yah, untuk berusaha semaksimal mungkin demi membahagiakan anak2ku. Itu sudah cukup bagiku 🙂

Happy anniversary xxx

Kisah cinta paling romantis