Menghadapi Rengekan Si Kecil
Posted on: May 9, 2014, by : Vega Aminkusumo
cara-menghadapi-anak-tantrum

VegaAminkusumo.com –Orang tua mana yang senang mendengar anak merengek? Yaaa, mungkin di usia 2 tahun beberapa jenis rengekan anak membuat orang tua luluh atau tertawa dalam hati. Semua juga tau, anak usia 2 tahun atau kurang memang masih lucu-lucunya. Bagaimana jika yang merengek anak usia 3 atau 5 tahun? Atau bahkan 6 tahun? Mengesalkan yah?
Tapi walau demikian, rengekan anak mampu mengakibatkan hati orang tua hancur berkeping-keping, galau menentukan sikap yang tepat, bahkan tidak jarang menimbulkan emosi sesaat yang mendadak muncul tanpa kendali. Tulisan ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, dan semoga bisa menambah wawasan.

Menghadapi rengekan anak, sebagian orang tua, dengan alasan: “nggak enak dilihat orang” ; “capek mendengar anak merengek” ; ” kasihan melihat anak merengek” , mereka memilih untuk menuruti keinginan anak, dan mengabulkan maunya anak.
Sebagian lainnya, karena kesal mendengar rengekan anak, tanpa sadar menjadi emosi, dan marah pada anak. Bentuk emosi yang keluar, dari sekedar bentakan ringan, kata2 yang menyakitkan, sampai cubit mencubit dan sejenisnya. Aduh kasihan..

Saya pun tidak jauh berbeda dengan orang tua pada umumnya. Terkadang bisa sangat bijak, di lain waktu bisa sangat emosional. Hehe, manusiawi, menghadapi anak memang perlu kesabaran ekstra.
Tapi ada beberapa rambu-rambu yang biasanya saya jadikan pedoman untuk menghadapi anak yang rewel.
Ketika anak merengek, inilah yang saya lakukan, biasanya.
Semoga bermanfaat yaa.

1. Memahami penyebab anak merengek.

Penyebab fisik
Anak yang terlalu letih / mengantuk / bosan / lapar / haus biasanya mudah merengek. Demikian juga ketika anak agak sakit atau mau sakit.
Ketika kita bisa memahami apa penyebab anak merengek, tentu menghadapinya akan lebih mudah.
Yang perlu kita lakukan adalah mencari solusi untuk penyebabnya.
Artinya, jika karena lapar, ya berarti anak bisa di arahkan untuk makan, di bujuk untuk mau makan. Tujuan akhirnya agar anak tidak lapar lagi.
Jangankan anak kecil, kita orang dewasa kalau lapar / mengantuk / bosan, kan juga bisa gampang marah 😀

Penyebab psikis
Kadang rengekan anak bisa disebabkan karenan ingin diperhatikan, ingin merasa disayang dan ingin diakui.
Bila penyebab anak merengek kebih karena masalah psikis, berarti kita sebagai orang tua musti mengkoreksi diri lagi, apakah sudah memberikan apa yang menjadi hak-hak anak secara cukup?
Kasih sayang, perhatian, pujian, kepercayaan? Apakah komunikasi yang terjadi cukup berkualitas?
Anak mungkin belum bisa menyampaikan secara langsung kebutuhannya untuk merasa disayang. Sebagai bentuk penyampaiannya, dia kemudian jadi mudah merengek jika menginginkan sesuatu, dan tidak berhenti merengek seblum keinginannya dituruti.
Hebatnya anak-anak, mereka memang pandai bermain karakter. Terkadang rengekannya terlihat begitu dramatis, sampai sanggup menghancurkan hati orang tua yang melihat. Di lain waktu rengekannya begitu mengesalkan, sungguh menguji kesabaran orang tua 😀

Karena terbiasa
Naaah, kalau yang ini harus diakui orang tua ikut andil menciptakan anak yang terbiasa merengek.
Awalnya mungkin karena rasa sayang, namun kemudian berlanjut menjadi berlebih2an memanjakan anak. Atau bisa juga karena ingin cepat beres. Atau bahkan bisa jadi karena bingung bagaimana menghentikan rengekan anak sendiri.
Dan tanpa sadar anak kemudian menjadi lebih nyaman dengan gaya manja dan penuh rengekan.
Hiks, saya banget nih. Agak kebablasan memanjakan anak, dan terlalu nyaman dengan kemanjaan anak2. Yaaah, habis bagaimana dong? Anak-anak saya itu lucu-lucu 😀

Setelah memahami penyebab anak merengek, tentunya menjadi lebih mudah menghadapi rengekan anak, bukan?
Hehe, tidak juga, ya..
Namanya manusia memang tempatnya khilaf. Apalagi namanya anak itu memang salah satu bentuk cobaan kesabaran bagi orang tuanya.
Tapi setidaknya, dengan memahami penyebab anak merengek kita bisa fokus pada penyebabnya, dan mungkin bisa jadi menjadi lebih sabar menghadapinya.
Selanjutnya tentu saja jangan melupakan point-poin yang lain.

2. Menjaga cara berkomunikasi ketika anak merengek

Ini yang agak sering lepas kendali.
Sebaiknya kita sebagai orang tua memperhatikan bagaimana kita berkomunikasi saat menghadapai anak merengek.
Yang sering terjadi, kita tanpa sadar, karena kesal, kemudian berbicara penuh emosi, nada tinggi pula. Walaupun satu-dua kata, tapi dalem…
Sebagian orang tua bisa langsung tersadar begitu lepas emosi sesaat. Kemudian memperbaiki intonasi suara menjadi lebih nyaman di dengar anak.
Sebagian orang tua lagi malah nggak bisa berhenti meluapkan kekesalannya. Hehe, akhirnya jadi marah yang kebablasan, belum berhenti kalau anak belum akhirnya terdiam atau menangis. Hihi, walaupun yang di sampaikan maksudnya baik, dan bisa jadi tujuannya juga tercapai, tapi caranya masih bisa diperbaiki lagi.

Bayangkan situasi berikut, yang bisa jadi sering kita temui di rumah

Anak, minta minum, tapi ngotot minta ibunya yang mengambilkan.
Sementara si ibu sedang sibuk membersihkan ikan, situasi tanggung dan ribet juga, kalau musti cuci tangan, dll meninggalkan posisi wenak, hanya sekedar meladeni permintaan anak, yang sebenarnya bisa dilakukan si anak secara mandiri.
Ibu mengatakan agar si anak mengambil sendiri minuman di meja.

Anak, makin reseh, tetap minta diambilkan air minum. Dan ibu makin kesal mendengar rengekan anak.

Akhirnya, … Yang terjadi bisa saja:

1. Ibu menghentikan kegiatannya, kemudian bergegas menuruti kemauan si anak, dengan rasa kesal, yang penting rengekannya berhenti. Kekesalan si ibu terlihat dari caranya memberikan gelas berisi minuman, entah itu raut wajah yang tidak ramah, atau bahkan disertai kata2 ocehan yang menggambarkan kekesalan. Hihi, hebatnya wanita, kadang di saat dikuasai oleh emosi, pemilihan kata-kata biasanya singkat, padat, dan jleb!

Saya, pernah melakukan hal yang sama.. , yah… , beberapa kali, sudah tidak bisa dihitung lagi, karena berinteraksi dengan anak juga full 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Dan satu hal yang membuat saya tertegun, malu, kaget, dan tak jarang juga menyesal adalah, ketika saya mendengarkan rekaman suara saya sendiri, saat berinteraksi dengan anak dalam kondisi emosi. Jaman sekarang, kan. Mau rekam video, rekam suara, sudah gampang sekali yaaah, tinggal pencet HP. Jadi kemungkinan mendengar suara sendiri ketika marah2, atau tak sengaja merekam suara sendiri ketika marah, mungkin saja terjadi. Dan itulah yang terjadi: tanpa sengaja terekam.
Efeknya dahsyat juga untuk saya! Antara kaget, menyangkal, kecewa pada diri sendiri, malu, dan tersadar, walaupun hanya satu kata, saja, jika itu terucap keluar ketika kita sedang dikuasai emosi, terdengar menusuk di hati…., hiks, kasian anak-anak, yaaa..
Alhamdulillah terapi itu (mendengar suara sendiri ketika marah), bisa menjadi rem untuk kejadian-kejadian selanjutnya.
Mana ada sih seorang ibu yang ingin menyakiti hati anaknya, dengan sengaja, secara sadar, anak kecil pula…
Tapi kenyataannya, begitulah yang sering terjadi. Karena ketika emosi, para ibu biasanya sudah nggak pikir panjang lagi.

2. Ibu tetap tidak menggubris rengekan anak, sampai pekerjaannya selesai, atau sampai anak itu capek sendiri. Intinya saling bertahan, siapa yang paling tahan, dia pemenangnya.. #eeeh.
Kemungkinan yang terjadi, biasanya anak makin parah merengek, makin menjadi-jadi, kalau sudah begini tergantung seberapa tahan si ibu bertahan saja deh. Bisa jadi juga berakhir karena si anak tertidur karena letih, merengek tidak di turuti. Bisa juga berakhir karena si anak tiba2 menemukan keasyikan baru, kemudian lupa pada keinginan awalnya dia.

Saya juga pernah menerapkan cara ini. Tidak menggubris rengekan anak.
Paling sedih itu ketika akhirnya anak tertidur, sebelum kita, ibunya menyerah menuruti keinginan anak. Dan sebaiknya memang hal ini dihindari, karena anak kemudian tertidur dalam kondisi emosi. Biasanya begitu bangun akan melanjutkan serangan yang tidak kalah dahsyat dari sebelumnya.
Paling enak ya, kalau anak kemudian bisa menenangkan diri sendiri, berhenti merengek kemudian asik sendiri deh.
Pernah juga nggak nahan mendengar anak merengek, akhirnya jebol juga, emosi sesaat 😀 hehe, ibu juga manusia..

3. Ibu segera menghentikan pekerjaannya, kemudian menyelesaikan masalah anak dengan penuh kesabaran dan bijaksana. Ada berapa banyak ibu yang seperti ini? Bisa tetap positif walaupun suasana panas? Apalagi dalam kondisi nanggung, ditengah aktivitas yang serba ribet kalau ditinggal.
Mungkin pertanyaannya bukan ada berapa banyak, tapi lebih tepat lagi, dalam 24 jam sehari, kapankah waktu-waktu yang paling optimal bagi seorang ibu untuk bisa dengan mudah bersikap seperti ini?
Begitulah. Pada kenyataannya anak merengek tidak melihat waktu-waktu yang tepat.

Saya, juga pernah bersikap seperti di atas jika anak merengek di saat jiwa keibuan sedang full charged 😀
tentu saja, menghampiri anak bukan kemudian serta merta menuruti keinginan anak. Melainkan lebih memberikan motivasi agar anak mau melakukannya sendiri, atau jika memang karena anak ingin ditemani, yah saya meminta sedikit waktu untuk membereskan pekerjaan yang tertunda, kemudian menemani anak-anak. Hihi, so sweet yaah, hanya saja momen seperti ini agak-agak jarang juga , hehe.. 😀

Tapi yang paling penting diingat, sebisa mungkin tetap mengontrol emosi ketika berhhadapan dengan anak yang merengek. Saya tidak mengatakan hal ini gampang, tapi dengan latihan yang sering, InsyaAllah bisa menjadi kebiasaan baik 😉

Bersambung ———- di sini : Menghadapi Rengekan Anak (lanjutan)

cara-menghadapi-anak-tantrum