Bayi Pertama saya dan Persalinan Yang Menyenangkan
Posted on: May 5, 2015, by : Vega Aminkusumo
ayah-siaga-siap-antar-jaga

VegaAminkusumo.com – Sebenarnya males mengingat-ngingat kisah lama yang satu ini. Kejadiannya sudah dari tahun 2001, tokoh utamanya yang dulu bayi orok, sekarang sudah 13 tahun.
Tapi kalau nulis kisahnya jaman dulu, manalah sempat 😀
Jadi yaa, mumpung masih bisa diingat-ingat lagi, masih bisa nulis, dan kebetulan sekarang sudah bayak yang lebih muda dari saya… 😀
Siapa tau apa yang saya kisahkan bisa menambah pengetahuan yang muda-muda, terutama yang baru akan merasakan persalinan pertama. Ini lho kisahnya saya. Begini lho rasanya melahirkan dengan normal itu. Nggak sesakit yang di katakan orang-orang kok, kalau tau caranya. Bayi pertama saya, proses persalianan menyenangkan 😀

Sebentar, saya ingat-ingat lagi yah.
Saya lupa kapan perkiraan lahirnya, tapi masih ingat kapan akhirnya lahir anak pertama 🙂
Lupa harinya juga, tapi ingat tanggalnya.
Lupa jam nya juga, tapi ingat awal proses kelahirannya.
3 Oktober 2001. Dini hari! Bahkan masjid-masjid juga masih sepi, belum ada tanda-tanda persiapan adzan Subuh. Jam berapa ya, kalau tidak salah jam 3an.
Setelah berbulan-bulan membaca-baca buku dan artikel tentang kehamilan dan persalinan, akhirnya saatnya ujian tes kelulusan tiba 😀
Berbekal teori yang hampir setiap hari saya baca, proses persalinan pertama ini saya lalui dengan persiapan penuh. Dan karena belajarnya serius, sudah sewajarnya bisa lulus dengan nilai memuaskan yah 🙂
Nanti akan saya infokan buku2 panduan semasa kehamilan yang paling baik menurut saya.
Kita lanjut ke proses persalinan pertama saya yah 😀

Tanda-tanda Persalinan

Dini hari itu, tanda-tanda persalinan sudah mulai muncul. Flek. Seperti kalau ketika wanita menstruasi saja. Kaget lho, soalnya sudah berbulan-bulan tidak mengalami yang namanya menstruasi, tiba-tiba dapet lagi 😀
Duh. Rasanya…, gimanaaa gitu.

Ada beberapa tanda-tanda proses persalinan dimulai/harus dimulai. Diantaranya seingat saya:
1. kontraksi yang mucul makin teratur dan semakin dekat jarak terjadinya. Ketika hal ini terjadi, proses pembukaan jalan lahir juga sudah mulai. Namun biasanya kontraksi ringan baru menandakan bukaan 1-2, dan cenderung tidak terlalu dirasakan, terutama jika hal itu terjadi ketika tidur.
2. Cairan ketuban rembes.
Wah kalau cairan ketuban yang rembes, kondisinya harus segera di tangani, sebelum air ketuban habis dalam plasenta. Kondisinya lebih darurat lagi apabila yang terjadi adalah pecah ketuban.
3. Adanya flek. Yang dimaksud Flek disini beruoa cairan lendir bercampur darah. sperti halnya jika menstruasi.
Yang saya alami pada persalinan pertama adalah flek.
Kita lanjut ke kisah saya yah..

Walaupun sudah paham secara teori, persalinan anak pertama prosesnya biasanya berjalan lebih lama. Maksudnya dari awal tanda-tanda persalinan dimulai sampai akhirnya bayi lahir, bisa berjam-jam bahkan berhari-hari, namun tetap saja.. pengennya cepet-cepet sampai rumah sakit 😀 hehe
Tas bersalin sudah siap, suami siaga juga sudah siap. Jadilah waktu itu, pagi-pagi buta, menuju ke RSIA Hermina Jatinegara.
Beda deh rasanya, kalau datang ke RSIA dalam kondisi siap bersalin. Walaupun sebelum-sebelumnya rutin datang ke Rumah Sakit itu, tapi kali ini datang dan masuk dari pintu yang berbeda, suasana berbeda, rasanya juga beda. Berasa naik level :p

Pemeriksaan rutin dan masalah administrasi nggak usah diceritain ya. Yang pasti aja, pokoknya pasti di cek bukaan jalan lahir, cara manual. Biar bisa diperkirakan, masih lama atau sudah sebentar lagi.
Nah, waktu itu, ketika saya tiba di RS (dengan terburu-buru), ternyata proses persalinan baru bukaan 2.
Dengan target siap lahir itu bukaan lengkap “10”, maka bukaan “2′ itu… masih jauh lah, dari target ya. Apalagi itu persalinan pertama. Waaah, bisa besok baru lahiran deh.
Di sebelah saya saat itu malah ada yang sudah menginap sehari belum lahir juga, hehehe 😀
Tapi karena kondisi “sudah tipis” , maka oleh Pak Dokternya proses persalinan saya di bantu, dipercepat dengan pemberian induksi(nah ini saya lupa yang tipis apanya ya? plasenta atau permukaan atau apa).
Hihi… iyah, diinduksi. Proses persalinan pertama saya dipercepat dengan induksi. Iyaaa, induksi, yang kata orang-orang itu, kalau lahiran dengan induksi itu sakit banget. Hehe…, nggak juga ternyata. Mungkin karena dosis obat yang diberikan tidak banyak, jadi sakitnya masih bisa dinikmati. Benerr nggak sakit kok.
Mau tau bagaimana rasa sakitnya ketika menjelang persalinan???

Sakitnya Kontraksi Menjelang Persalinan

Kontraksi ketika menjelang proses persalinan sebenarnya merupakan tanda-tanda alami yang bisa di rasakan oleh ibu, dan bisa menjadi tolok ukur. Semakin dekat datangnya kontraksi, semakin sakit rasa kontraksi, berarti bukaan jalan lahir mustinya semakin besar.
Beruntung sekali, ketika hamil trimester terakhir saya menyempatkan diri mengikuti kelas persiapan persalinan dari RSIA. Walaupun singkat, tapi ada satu hal penting yang informasinya saya dapat dari sana:
Jangan mengkonsumsi “Rumput F*t*m*h”. Karena hanya akan memperhebat rasa sakit namun tidak membantu mempercepat bukaan jalan lahir, begitu penjelasannya.
Belakangan saya mulai paham, bagi sebagian orang, Rumput F*t*m*h itu merupakan minuman untuk melancarkan dan mempercepat proses kelahiran. Namun yang tidak diketahui banyak orang adalah apa yang terkandung dalam rumput fatimah, berapa dosis yang tepat untuk diberikan, dan kapan saat yang tepat pemberiannya.
Dengan pengetahuan yang minim, pemberian Rumput F*t*m*h sama saja dengan memberikan induksi dengan dosis yang tidak terkontrol. Jadi, jika ingin merasakan persalinan normal yang menyiksa dan sakitnya minta ampun…., silahkan minum Rumput F*t*m*h yah.

Tau kan, gosipnya, bagaimana rasanya melahirkan dengan diinduksi? hihi, iyah, sakit! Sakit banget! ITu bukan gosip, beneran sakit banget deh.
Tapi Alhamdulillah saya terbebas dari ketidak-tahuan, jadi hanya merasakan induksi ringan yang sakitnya juga tidak seberapa.
Nah, berdasarkan pengalaman saya, begini tahap-tahap kontraksi yang saya rasakan saat persalinan normal. Penjelasannya ala ibu-ibu yang tidak paham masalah medis yaaa 😀

1. Kontraksi tahap awal.

Rasanya…, hmmm.. seperti kontraksi-kontraksi yang biasa terjadi sebelum-sebelumnya, tidak sakit sama sekali, bahkan cenderung geli, dan rasanya “amazing”. Iya, bisa merasakan ada sesuatu yang hidup dan tidak berbahaya dalam perut itu, rasanya ….
Nah, ketika proses persalinan mulai, rasa kontraksi tahap awal ini juga sama, nggak sakit. hanya saja kemunculannya makin teratur, bisa tiap 1 jam sekali.

Nah, makin dekat jarak kontraksi, bukaan rahim juga makin lebar, dan sensasi yang dirasakan saat kontraksi juga makin kuat 😀
KOntraksi dengan rasa yang biasa-biasa saja ini bisa kita nikmati ketika pembukaan jalan lahir masih di di bawah 5. Walaupun makin kemari akan makin terasa sakit, tapi pasti masih bisa di nikmati deh..

2. Kontraksi tahap pertengahan.

Naaah…, ini niiih, masa-masa ketika kita makin tersadar kalau sebentar lagi akan melahirkan.
Yang tadinya ketika kontraksi masih bisa santai, masih bisa ketawa nyengir, masih bisa duduk, masuk ketahap ini mulai deh, hehehe.
Yang saya ingat sih, Kontraksi fase ini sudah nggak nyaman aja untuk duduk ketika kontraksi. Pokoknya posisi yang paling nyaman ketika bukaan 5 keatas itu ya.. berbaring miring, melungker menghadap ke kiri.

Kalau pada fase kontraksi tahap awal saya masih sanggup ke kamar kecil, turun dari tempat tidur dan membawa botol infus ke kamar kecil, nah.. ketika fase pertengahan ini, nggak sanggup deh 😀
Pokoknya paling nyaman ya berbaring melungker. Ke kiri atua ke kanan mustinya gak masalah, yang penting melungkernya itu.
Ngerti kan ya maksudnya berbaring melungker? meringkuk seperti ketika kita sakit perut. Biasanya inginnya kaki melipat ke depan dada, namun karena kondisi hamil dengan perut menggendut maksimal, ya.. kira-kira berusaha untuk seperti meringkuk deh 😀

Pada fase pertengahan ini, sebenarnya justru saat-saat yang paling menentukan kelancaran dan lama atau sebentarnya proses persalinan.
Saat ini kontraksi sudah semakin sering, dari tiap 30 menit sampai menjadi tiap 15 menit bahan lebih dekat lagi.
Nah, jika kita bisa tetap tenang, secara teori pembukaan jalan lahir akan terjadi tanpa kendala, dan bisa lebih cepat.
Masalahnya, namanya sedang menahan sakit kontraksi, siapa sih yang sanggup tenang? 😀
Hehehe..
Ada trick dan tips nya bu ibuuu 😉
Yang saya lakukan, berdasarkan teori yang saya baca sebelum-sebelumnya, yang penting dilakukan adalah, tidak mengejan ketika kontraksi. Bagaimana caranya? Hmm, begini.. semoga saya tidak salah ingat nih.
Jadi yang saya lakukan itu, begitu mulau tanda-tanda kontraksi akan terjadi, saya menenangkan diri dengan menarik napas panjang dan teratur.
Dan ketika kontraksi makin terasa sakit, cara menahan sakitnya dengan membuang napas seperti ketika senam BL hehe.. jadi ingat senam BL nih..
Dan sedikit usapan di punggung bagian bawah juga membantu meredakan rasa sakit lho. Apalagi kalau yang usap-usap suami sendiri yah…, walaupun hal itu tidak banyak membantu ketika kontraksi sudah sampai di bukaan 8 atau 9. Tapi kan teteeep, setidaknya ketegangan agak berkurang.

Yang paling saya ingat, dulu itu, saya sempet lho akhirnya bilang ke susternya. Minta pakai ILA. Eh nulisnya bener gak ya? ILA itu proses persalinan yang dibantu dengan obat, jadi rasa sakitnya kontraksi tidak begitu terasa. Hehe, ternyata ada caranya lho. Mungkin untuk memperkecil penderitaan ibu, ketika bersalin, atau untuk memperkecil resiko persalinan. Yang pasti cara dengan ILA itu di awal proses persalinan sudah dijelaskan, ditawari juga mau dengan ILA atau normal biasa saja. Dan saya saat itu milih normal alami biasa saja. Nggak pakai macem-macem. Cuma di induksi sedikittt.
Nah, pas itu kalau tidak salah ingat, bukaan sudah 7 atau delapan ya. Cepet deh, begitu bukaan 5, semua berjalan cepat sekali rasanya. BAru saja kontraksi berlalu 30 menit yang lalu, eh sudah mulai terasa akan kontraksi lagi :p
30 menit itu rasanya cepat sekali. Tapi yang namanya kontraksi, walaupun cuma 3 menit, tapi rasanya lamaaaaa banget deh.
Inget banget saya, saat itu sempet minta sama suster, “Saya ILA aja deh, suster.” Saking rasanya sakit ya.
Hehe, dan jawaban mba suster, dengan tenangnya, “Yah, bunda, kalau ILA sekarang sudah nggak bisa. Mustinya dari awal tadi.” Hehe… nyesek yah, ibaratnya mau nggak mau musgti menghadapi rasa sakit, dan tidak bisa pakai pain killer. Untungnya suster juga menenangkan, “Ini sebentar lagi bunda, sudah bukaan 8.”
Jadi ada secercah harapan, sakitnya tidak akan lama lagi berakhir deh.
Dan memang bener lho. Pokoknya, tidak perlu khawatir. Asalkan nggak pakai minum yang aneh-aneh, jamu-jamuan yang nggak jelas kandungannya. Ketika rasa sakit itu sudah makin tidak tertahan, itu artinya bukaan juga makin membesar. Dengan catatan…., berusaha tetap tenang, dan tidak mengejan ketika kontraksi.

3. Kontraksi tahap akhir.

Jreng jreng jreng JRENG!!!
Ini bagian yang paling seru nih.
Saya ceritakan detil yah, hehe.. semoga gak salah ingat.
Oiya, saya ulang lagi ya. Ketika kontraksi terasa mulai tidak tertahankan, nah biasanya itu sudah nggak lama lagi, dan bener-bener nggak lama lagi, bayi siap keluar. Yang penting diingat: tetang tenang dan jangan mengejan ketika kontraksi.
Dan benar saja lho.
Yang saya ingat tiba-tiba suster sibuk siap-siap alat-alat dll. Sakitnya rasa kontraksi ya, tetep sakit, tapi sudah tidak ada peningkatan rasa sakit lagi. Dah segitu ajah sakitnya, tidak menghebat. Entah apakah karena sayanya yang sudah pasrah, atau memang demikian adanya.
Yang pasti, tiba-tiba rasanya ingin buang air yah. beneran dah kebelet rasanya, pengen mengejan.
Yaa, kan malu lah ya, masa di atas tempat tidur gitu loh.
Tapi karena sama susternya disuruh ajah, gak apa-apa. Yah sudahlah. Saya sempet nanya juga, seingat saya, “Bener sus, gak apa-apa, disini aja?” saking ragunya gitu.. maunya turun ke kamar kecil dulu bentaran.
Yaah, karena disuruh di tempat tidur, ya, mau gimana lagi. Nggak saya tahan lagi deh 😀
Dan akhirnyaaaaa…

Hehe…, Ternyata keinginan mengejan itu memang salah satu prosesnya. Pyar!!! ketuban pecah. Basahlah. Persalinan makin dekat lagi.
Karena saya fokus untuk tidak mengejan ketika kontraksi, bukaan jalan lahir lebih cepat bertambah dan akhirnya bayi siap keluar. Tandanya ya itu tadi, keinginan utk buang air besar heheh… nggak terasa sakit kontraksi lagi loh. Beneran deh.
Setelah bukaan penuh, yang terasa ketika kontraksi itu bukan rasa sakit yang hebat lagi. Tapi rasa ingin mengejan yang hebat.

Begitu ketuban pecah, semua berjalan lebih cepat lagi sepertinya. Peralatan sudah selesai di atur, Suami saya kemudian dipanggil ikut masuk mendampingi saya selama proses persalinan, Dokter kandungan saya pun sudah siap tempur di ruang bersalin. JRENG JRENG!
Inilah tahap akhir kontraksi pada proses persalinan.
Tidak sakit lagi yaaa.
Yang saya rasakan pada tahap ini, setiap kontraksi itu rasanya ingin mengejan. dan memang itulah yang harus dilakukan.
Mengejan ketika dan hanya ketika kontraksi muncul.
Ketika tidak kontraksi?
Istirahatlah, tarik napas, atur posisi, senyum, tetap tenang, dan tetap semangat. 🙂
Saat-saat ini, walaupun sepertinya tidak terlalu letih, tubuh mengeluarkan banyak energi lho. Jadi jangan mogok makan ketika menunggu persalinan, ya. Walaupun menahan sakit kontraksi, makan mah tetep harus.

Cara Mengejan Saat Melahirkan.

Nah di tahap akhir kontraksi ini penting sekali kita paham bagaimana cara mengejan yang benar, agar persalinan tidak terlalu lama, bayi sudah keluar seutuhnya. Bagaimana posisi yang benar, kapan harus mengejan, dan bagaimana mengejan yang bisa memberikan dorongan maksimal?
Berikut tips dari saya, berdasarkan proses persalinan 3 anak-anak yah..

Membahas masalah posisi sebenarnya tidak ada panduan yang baku, bagaimana yang paling baik. Dan saya juga enggan yah, membahasnya 😀
Tapi nggak perlu kuatir, karena pasti akan di bantu oleh suster/bidan, agar bisa menemukan posisi yang nyaman. Yang penting untuk diingat, adalah, untuk tidak mengangkat bagian belakang tubuh ketika mengejan.
Ini tips yang saya dapat dari ibu saya saat itu. Tidak mengangkat bagian belakang tubuh. Jadi, posisi tubuh tetap menempel dengan pembaringan. Waaah… kalau panik, mana ingat ya? hehe.. itulah pentingnya untuk mengingatkan diri sendiri agar tetap tenang. Banyak cara untuk menenangkan diri, diantaranya dengan mengingat Allah.
Tujuannya apa, tidak mengangkat bagian belakang tubuh? Agar yang sobek tidak terlalu lebar :p

Oiya, sampai lupa, walaupun sebenarnya bisa saja lho, melahirkan tanpa jahitan. Tapi biasanya Dokter lebih memilih untuk melakukan inisiatif melebarkan jalan lahir, daripada kalau dibiarkan secara alami, eh ternyata sobek, menjahitnya malah susah karena sobekannya tidak lurus dan tidak terkendali 😀
Tapi jangan kuatir. Walaupun tanpa di beri obat bius, kita nggak akan merasakan kok, ketika jalan lahir di perlebar sedikit. Sudah mati rasa karena tekanan dari kepala bayi.
Tapi kalau berminat mencoba melahirkan tanpa jahitan, caranya juga ada kok. Biasanya kalau lahir di bidan atau dukun beranak, lebih alami. Resika hanya kalau sobek, jahitannya lebih berantakan aja hehehe. Tapi kemungkinan sobek juga bisa di minimalkan dengan perawatan selama kehamilan, seperti… mmm, gak usah dibahas ya, karena saya tidak praktek melahirkan tanpa jahitan 🙂

Yang sebaiknya tidak dilakukan juga adalah, mengejan sambil menutup mata. Jangan deh. Walaupun rasanya lebih fokus dengan menutup mata, tapi nanti otot mata juga ikut kerja.
Yang sebaiknya ya, tetap melihat dan tetap terjaga ketika mengejan.

Nah, saat persalinan, kontraksi yang datang sudah tidak terasa sakit lagi lho ya. Yang dirasakan ketika kontraksi adalah keinginan untuk mengejan. Yang harus kita lakukan ya, cuma itu. mengejan ketika kontraksi. Saat kontraksi bayi dalam perut terdorong keluar, dan kita pun ikut membantu dengan mengejan agar proses keluarnya bayi menjadi lebih cepat.
Dalam kondisi normal, proses keluarnya bayi yang agak meletihkan hanya mengejan ketika di awal saja. ketika berusaha mengeluarkan kepala bayi. Begitu kepala bayi sudah keluar semua, langsung, serasa ramai lancar… bayi keluar dan suasana langsung ceria, ketegangan berkurang, suami tersenyum, dokter dan suster juga riuh terdengar lega 😀

Tapi jangan buru-buru istirahat lah, karena proses persalinan belum sepenuhnya berakhir. Masih harus mengejan sekali lagi, untuk mengeluarkan plasenta bayi. Caranya juga sama, mengejan ketika kontraksi muncul, Dan biasanya keluarnya juga gampang banget. Ya iyalah, sebelumya yang keluar segede bayi, kalau cuma sebongkahan plasenta ya nggak ada rasanya :p
Dan setelah plasenta keluar, dokter mulai melakukan penjahitan. Iya, yang tadi di lebarkan langsung dijahit kembali. Tanpa bius juga. Dan tidak perlu kuatir, karena tidak sakit sama sekali. Masih mati rasa. 🙂

Pasca Persalinan

Apa yang harus dilakuakn pasca persalinan?
Istirahat. Itu saja. makan minum seperti biasa. Dan segera mulai berlatih kegel yaaa, agar proses pemulihan jahitan lebih cepat. Sudah tau kan latihan Kegel itu seperti apa, bagaimana caranya? Ini penting niiih, untuk wanita 😀
Itu saja yang.
Nanti kita bahas masalah Blue Baby yah.., kapan-kapan kalau mood lagi.
Kalau ternyata kisah saya bermanfaat, banyak yang menghendaki, saya masih punya dua kisah persalinan lagi, yang cerita agak berbeda 🙂
Mau?

PS. Maaf, tidak ada foto yang sesuai isi artikel nih :p Nanti saya carikan foto bayi pertama saya ajah yaaa 😀