Month: May 2015

Resep Lele Goreng Tepung Renyah, Mudah, Enak

VegaAminkusumo.com – Seingat saya, dulu saya tidak suka makan lele. Bentuknya yang agak memanjang, dan kulit yang tanpa sisik, mengingatkan saya pada belut yang meliuk-liuk seperti ular. Langsung hilang selera makan saya…Tapi itu dulu.
Semuanya berubah ketika suatu saat, ditengah gelap saat santap sahur bersama teman dilkamar kost, menu yang dihidangkan adalah lele goreng.
Entah karena lapar atau penasaran, karena melihat teman saya begitu antusias memakan lele goreng.. Saya pun ikut memakannya. Dan sejak saat itu, saya berdamai dengan lele, dan mulai bisa menghargai lele berdasarkan rasanya, tanpa memandang bentuknya yang menjijikkan. Never judge the fish by its look.

Jangan salah, ya, walaupun sudah bisa menikmati lele, bahkan kalau membeli lauk di warung tenda saya lebih suka memilih pecel lele dari pada memesan ayam goreng.., tetap saja, saya belum tertarik untuk memasak lele.
Iya, jujur. Masih agak geli memegang lele yang licin, melihat bentuk kepalanya yang tidak lucu, berbalut hitam abu-abu. Sungguh tidak menarik sama sekali.
Saya baru mulai mau memsak lele setelah menikah, seingat saya. Itu pun atas nama cinta dan penghematan 😀
Kebetulan suami juga suka banget sama lele, dan ternyata bisa lebih murah kalau beli mentah di tukang sayur dan goreng sendiri.

Jangan salah, saya masih tetap agak jijik ya, memegang, melihat lele dengan wujud aslinya yang demikian. Apalagi licinnya itu lho. Tapi setelah beberapa kali memasak lele, akhirnya saya memiliki tips menggoreng lele yang cukup membuat saya nyaman dan lele goreng saya terasa pasti enak:

cara membersihkan lele buang kepala1 . Buang kepalanya. Saya selalu minta tukang sayur langsung memotong bagian kepala lele.
Yaa, walaupun kata sebagian orang kalau lele digoreng sangat kering bagian kepala lele itu nikmat sekali,.. Tetap saja, untuk saja, dengan kondisi memasak ala rumahan, wajan kecil, dengan minyak secukupnya, tentu tidak mungkin memasak lele sampai benar2 kering seperti ala warung tenda. Mereka memakai wajan segede gambreng, dengan minyak penuh, jadi ketika lele dilempar masuk ke dalam wajan, bisa benar-benar tenggelam dalam minyak panas.
Buat saya, daging lele saja sudah cukuplah. Menggoreng dengan kepalanya hanya akan memakan tempat pada wajan penggorengan dan menghabiskan lebih banyak minyak. 🙂
Oiya, kalau lele yang saya beli ukurannya agak besar, otomatis agak panjang, saya biasanya minta sekalian di potong lagi, menjadi 2 bagian memanjang yang lebih kecil. Bukan apa-apa, hanya masalah ukuran wajan dirumah diameternya tidak terlalu lebar :D, jadi biar pasti muat di dalam wajan penggorengan.

 

2. Untuk menghilangkan licin pada kulit lele, saya biasa menaburkan garam terlebih dahulu, (dan kalau pas ada, sedikit perasan jeruk nipis). Ini dilakukan sebelum mulai membersihkan lele. Taburi garam dan jeruk nipis, lalu diamkan sesaat, kemudian mulai bersihkan dengan menggunakan air mengalir.
Atau kadang-kadang, saya simpan lele ke dalam freezer dulu sebentar, ketika agak beku, bagian licin pada kulit lebih mudah hilang (trik yang sama juga saya lakukan ketika membersihkan ayam). Hanya saja kalau lele agak beku, bentuknya suka melengkung sana sini, tidak cantik, tidak lurus, jadi tidak kompak aja..

Saat membersihkan lele, saya selalu membersihkan bagian dalamnya juga, hingga benar-benar tidak ada isi yang lain, selain tulang dan daging lele. Ini termasuk bagian gelap yang biasanya menempel dalam selapun pada bagian atas rongga perut ya. Biasanya saya perlu merobek selaput tipisnya dengan pisau terlebih dulu, untuk bisa benar-benar membersihkan bagian itu. Itu termasuk penyumbang aroma dan rasa amis pada lele. Membuangnya tidak akan mengurangi kegurihan rasa lele goreng. Dan jika ukuran lele agak besar, saya lebih senang memotongnya menjadi 2 bagian kecil. Disamping nanti akan lebih mudah menggorengnya, potongan sedang lebih masuk akal untk disajikan dalam piring anak-anak. Yaa,, kan kalau kurang bisa ambil lagi 😉

cara-membersihkan-ikan-lele

3. Membumbui lele sebenarnya tidak susah.
Lele digoreng tanpa bumbu sebenernya juga enak lho, asal bisa dogoreng sampai garing. Itu warung tenda kan begitu tuh, pecel lele, begitu ada yang pesan, si lele di ambil dari jirigen, langsung digetok, bersihkan isi perutnya, cuci2 dikit, kemudian lempar ke wajan yang penuh minyak panas. Biarkan lalu angkat, sajikan dengan sambel.

Nikmatnya makan lele itu sebenernya terletak di rasa sambelnya. Kalau sambelnya enak, otomatis pecel lelenya juga jadi enak deh. Namun untuk biar lebih nikmat, tentu saja, minimal dibumbui garam dapur secukupnya. Kalau ada bawang putih, itu akan menambah aroma dan kelezatannya. untuk bumbu instan, bisa saja dengan bumbu racik tempe goreng, ikan goreng, ayam goreng, atau bumbu jadi di tukang sayur, utk ayam ongkep. 😀 Bisa bumbu apa saja yah….
Diamkan beberapa saat dalam bumbu agar meresap, baru kemudian goreng deh 🙂

Resep lele goreng tepung renyah, mudah, pasti enak

Naaaah, bagaimana resep lele goreng tepung renyah ala saya? Sederhana juga.
Sebenarnya ide ini berawal dari keprihatinan saya setiap kali memasak lele goreng. Tau, kaaan, lele itu tubuhnya agak membulat, bagian dekat kepala itu isinya banyak dagingnya. Yang menjadi kekhawatiran saya setiap menggoreng lele adalah, kematangan bagian daging bagian dalamnya itu.
Walaupun menggoreng dengan minyak yang banyak, tapi jika tidak sabar menanti, buru2 diangkat, bagian dalam lele seringkali tidak benar2 matang.
Beberapa kali saya terpaksa menggoreng ulang potongan lele yang sudah disantap sebagian hanya karena menemukan bagian yang masih berwarna merah darah di daging bagian dalam.
Kekhawatiran ini juga yang menjadi salah satu alasan kenapa saya memilih menggoreng lele tanpa kepala. Agar lebih pasti semua bagian matang tergoreng.

Untuk yang jarang menggoreng, jadi begini… Kalau kita menggoreng denfgan api besar, minyak akan cepat panas, dan masakan kita akan leboh cepat garing, tapi terkadang, bagian dalamnya belum benar2 matang karena panasnya minyak belum benar2 sampai bagian dalam, jika masakan kita termasuk tebal.
Naah, jika kita menggoreng dengan api kecil, panasnya minyak akan lebih merata masuk kebagian dalam, namun itu berarti perlu waktu lama agar bagian luar menjadi garingm
Bagi mereka yang telaten dan penyabar, tentu hal ini mukan masalah…. Sayangnya saya bukan tipe yang telaten dan penyabar… Jadi… Terpikirlah oleh saya cara aman mengolah lele. Jadilah resep lele goreng tepung renyah, ala vegi hehe..
Langsung saja yaaa,

1. Siapkan lele yang sudah dibersihkan, masukkan ke dalam wajan, tambahkan bawang putih yg sdh digeprek, dan sedikit garam. Rebus sebentar sampai keluar air dan lele setengah matang merata. Dinginkan.
Jika ingin langsung menggorengnya juga bisa, tapi tentu akan agak sulit memegang potongan lele yang masih panas.
Dalam kondisi setengah matang ini, lele bisa disimpang dalam lemari pendingin untuk di goreng nanti sesaat menjelang hendak disantap. Bahkan disimpan lebih dari sehari pun rasanya masih nikmat.

2. Siapkan tepung bumbu siap saji, bisa merk apa saja. Saya biasanya pakai yang kebetulan ada di tukang sayur, bisa tepung kobe, tepung kentucky, tepung mendoan, dll. Yang penting tepung bumbu.
Nah, kalau nggak mau pakai tepung siap saji, bisa juga membuat sendiri, dengan mencampur tepung terigu dengan tepung beras, garam dan merica (atau bisa ditambah bumbu penyedap kaldu bubuk). Aduk rata, siap dipakai.
Siapkan tepung bumbu dalam wadah. Siapkan lele yang sudah setengah matang.

3. Siapka wajan, berisi minyak secukupnya, panaskan dengan api sedang.
Lele yang basah dicelupkan ke dalam tepung bumbu, agar permukaannya tertutup tepung semua, baru kemudian masukkan kedalam minyak yang sudah panas. Sreng sreng..Balikkan bagian lele, jika sudah terlihat coklat matang, dan ketika seluruh permukaan sudah terlihat matang, angkat dan tiriskan.
Karena lele sudah direbus sebelumnya, kematangan daging bagian dalam lebih terjamin, walaupun kita menggoreng tidak terlalu lama.
Tentu saja, jika sebelumnya lele disimpan dalam lemari pendingi, berikan cukup waktu agar lele tidak terlalu dingin sebelum masuk ke dalam wajan.

Bagi yang penasaran bagaimana rasa lele goreng tepung renyah ala saya yang ini…. Saya beri tahu saja yah.. Rasanya gurihhh banget. Bumbu bawang putih begitu merasuk, memberikan cita rasa yang…… *ngiler deh, pengen makan pecel lele*..
Yang pasti, dengan cara ini kematangan daging bagian dalam tidak diragukan lagi, dan balutan tepung renyah membuat bentuk lele yang menjijikkan juga tersamar. Tapi kalau masalah rasa… Hmm, nikmatnya makin nempel dilidah lhoo…benerr… 😀

Selamat mencoba..

lele-goreng-tepung-krispi-enak

Tips Terbaru Cara Menggoreng Lele

Nah, saya dapat tips lagi nih, nggak sengaja karena ketika hendak menggoreng, ternyata tepung bumbu yang dibeli yang hot (pedess).. jadi pas kebetulan adan ya apa ya itu ang dipakai. ?Sempet saya tulis sebagai status di Fesbuk, tapi karena sudah dioper kemari.. yang di sana kita hapus ajah kali ya 😀

Nah… tips terbaru untuk lele goreng.
Sekarang seringnya kalau lele ya.. masaknya cara begini..
Lele dipotong-potong, kepala dikasih ke kucing..
Potongannya direbus dulu dgn sedikittt air (dikit banget, malah kadang nggak perlu). Bumbunya cuma bawang putih digeprek dan garam dikittt.. kalau mau lebih kaya ras bisa tambah parutan biji pala dan merica.
Rebus sebentar tujuannya biar nanti kl masak pasti mateng semua sampai dalem dalemnya walopun gorengnya nggak berlimpah minyak..dan.. amisnya juga berkurang..
Setelah setengah mateng.. nah disini serunya..
Kl sudah begini lele bisa disimpen dikulkas atau diemkan saja, sudah siap saji, tinggal goreng sreng kapan saja..
Nah… menggorengnya ituuu…. yang paking nikmat ya.. biar jadi lele yang gariiiing bingit..
Bisa pakai tepung bumbu kentaki krispi yang ada..tapi itu kan pasti ada msgnya …
Kalau mau tanpa msg, dan rasanya uenak.. *dijamin enak*.. cukup pakai tepung maizena.. eh itu nama merk ya? Pokoknya yang sejenis deh…, maizena bisa tepung kanji juga bisa.
Gak usah pakai air, jadi lele yang lembab langsung ditepungi ajah, terus goreng sreng… sampai garingggg…
Hehe… lumayan lama juga nih, garingnya.. walopun sudah dingin lelenya… kriuknya masih kres krea kres lho..

Tapi yang lebih penting lagi.. rasanyaaaa…
Rasa lelenya lebih terasa, karena nggak ada rasa rasa titipan tepung bumbu yang memang sudah enak..
Jadi… rasa lelenya berasaaa… gurihnya dari garem n bawang.. plus.. rasa palanya, walopun sedikit tetep berasa…
Enak enak enak.

tips terbaru cara menggoreng lele agar garing
Lele digoreng garing dengan tepung maizena atau tepung kanji, hasilnya renyah bingits

Variasi Resep Pancake Instan

Vegaaminkusumo.com – Dalam seminggu kemarin, kita sudah menghabiskan 4 kemasan box tepung pancake instan lho. Iya, sedang seneng-senengnya masak pancake nih. Sebentar, saya kisahkan proses pembelajarannya yaa…, jadi yang baca juga ngerti banget cara gampang membuat pancake dan variasi resep pancake instannya juga 🙂

Box pertama.
Box pertama kan namanya juga baru sekali itu membuat pancake. Jadi… Yaa… Ikuti aturan pembuatannya deh… , 2 telur, margarin cair, susu cair, dan tepung pancake, semua di campur, lalu di panggang dengan api kecil menggunakan wajan anti lengket. Setelah coklat cantik, pancake di balik lalu setelah matang diangkat.
Rasanya hmm…. Ya rasa pancake. Biasa ajah…

Box kedua, setelah paham cara membuat pancakenya, kali ini kita mencoba berkreasi dengan isi. Biar seperti martabak manis, pancake diisi keju atau butiran coklat mesis.
Cara membuat adonannya tetap sama, yang beda hanya cara memanggangnya..
Saya membentuk lingkaran2 mungil, lalu seblum mengering permukaannya segera ditaburi gula pasir/mesis dan keju, dan sedikit susu kental manis.

Cara menambahkan isi pun mudah, tidak ribet.
Kalau saya, begitu adonan dituang, masih dalam kondisi agak basah, saya segera menaburi pancake dengan gula pasir. Sedikit gula pasir. Lalu parutan keju atau taburan mesis, terakhir sedikit susu kental manis
Lalu pancake bs dilipat jika membuatnya ukuran besar, atau 2 pancake mungil saling di tumpuk, ditengah2nya ada keju/mesis,dll.
Bagaimana rasanya kali ini???
Hmm.. Beneran. Enak banget.

Adonan pancake memang gak jauh beda dengan adonan martabak manis ya, bahkan kalau dibuat sangat tipis, kita bisa mendapatkan kulit crepes yang garing dan nikmak.
Karena enak, jadilah 1 kotak pancake instan saja berasa kurang.
Dan karena agak terlalu sering membuatnya (hanpir tiap hari, dan sehari 2 kali produksi, sekali produksi hanya 1/2 kotak tepung pancake), akhirnya menemukan resep yang paling enak dan tidak sulit membuatnya.
Mau tau variasi resep pancake instan saya?

Pancake dengan parutan keju

Sesuai judulnya: pancake dengan parutan keju, sudah pasti ada keju parutnya yah.
Tapi keju parut ini maksudnya bukan pancake isi keju yg saya maksud. Melainkan pancake dengan keju parut.
Cara membuatnya? Berikut resep membuat pancake keju spesial ala Vegi yaaah 🙂

Cara membuat pancake dengan parutan keju sebenarnya sama seperti membuat adonan pancake biasa saja. Hanya saja ketika memanggang di atas wajan anti lengket, sebelumnya parut lah keju di atas wajan, agar parutan tersebar di permukaan dengan merata.
Lalu baru tuangkan adonan pancake di atas parutan keju tadi.
Jika ingin pancake dengan isi tertentu, permukaan pancake bisa ditaburi isi dan selanjutnya bisa ditutup dengan pancake lain atau dengan lipatannya.
Namun bila pancake yang dibuat tanpa isi, maka keju bisa ditaburkan juga di permukaan ketika masih agak basah, agar keju bisa menempel dengan cantik. Dan ketika pancake dibalik parutan keju itu masih ada dipermukaan.

Bagaimana rasanya?
Hmm nyam nyam…. Keju yang menempel benar2 berada dibagian luar dan ikut mengering. Keju garing ini menghasilkan cita rasa gurhi tersendiri yang sulit digambarkan. Karena ada kerenyahan ketika keju tergigit dan ada kelembutan dari pancake yang empuk.Apalagi jika di padu dengan isi keju dan susu kental maniss…

Cukup satu kata:
Enyak!.. Hihiii… dan yang paling serunya lagi, isi keju bisa diganti dengan kornet ataupun tuna chunk light.. rasanya… aaaaaaaargh… saya jadi laperrrr…

resep-membuat-pancake-keju-spesial

Bayi Pertama saya dan Persalinan Yang Menyenangkan

VegaAminkusumo.com – Sebenarnya males mengingat-ngingat kisah lama yang satu ini. Kejadiannya sudah dari tahun 2001, tokoh utamanya yang dulu bayi orok, sekarang sudah 13 tahun.
Tapi kalau nulis kisahnya jaman dulu, manalah sempat 😀
Jadi yaa, mumpung masih bisa diingat-ingat lagi, masih bisa nulis, dan kebetulan sekarang sudah bayak yang lebih muda dari saya… 😀
Siapa tau apa yang saya kisahkan bisa menambah pengetahuan yang muda-muda, terutama yang baru akan merasakan persalinan pertama. Ini lho kisahnya saya. Begini lho rasanya melahirkan dengan normal itu. Nggak sesakit yang di katakan orang-orang kok, kalau tau caranya. Bayi pertama saya, proses persalianan menyenangkan 😀

Sebentar, saya ingat-ingat lagi yah.
Saya lupa kapan perkiraan lahirnya, tapi masih ingat kapan akhirnya lahir anak pertama 🙂
Lupa harinya juga, tapi ingat tanggalnya.
Lupa jam nya juga, tapi ingat awal proses kelahirannya.
3 Oktober 2001. Dini hari! Bahkan masjid-masjid juga masih sepi, belum ada tanda-tanda persiapan adzan Subuh. Jam berapa ya, kalau tidak salah jam 3an.
Setelah berbulan-bulan membaca-baca buku dan artikel tentang kehamilan dan persalinan, akhirnya saatnya ujian tes kelulusan tiba 😀
Berbekal teori yang hampir setiap hari saya baca, proses persalinan pertama ini saya lalui dengan persiapan penuh. Dan karena belajarnya serius, sudah sewajarnya bisa lulus dengan nilai memuaskan yah 🙂
Nanti akan saya infokan buku2 panduan semasa kehamilan yang paling baik menurut saya.
Kita lanjut ke proses persalinan pertama saya yah 😀

Tanda-tanda Persalinan

Dini hari itu, tanda-tanda persalinan sudah mulai muncul. Flek. Seperti kalau ketika wanita menstruasi saja. Kaget lho, soalnya sudah berbulan-bulan tidak mengalami yang namanya menstruasi, tiba-tiba dapet lagi 😀
Duh. Rasanya…, gimanaaa gitu.

Ada beberapa tanda-tanda proses persalinan dimulai/harus dimulai. Diantaranya seingat saya:
1. kontraksi yang mucul makin teratur dan semakin dekat jarak terjadinya. Ketika hal ini terjadi, proses pembukaan jalan lahir juga sudah mulai. Namun biasanya kontraksi ringan baru menandakan bukaan 1-2, dan cenderung tidak terlalu dirasakan, terutama jika hal itu terjadi ketika tidur.
2. Cairan ketuban rembes.
Wah kalau cairan ketuban yang rembes, kondisinya harus segera di tangani, sebelum air ketuban habis dalam plasenta. Kondisinya lebih darurat lagi apabila yang terjadi adalah pecah ketuban.
3. Adanya flek. Yang dimaksud Flek disini beruoa cairan lendir bercampur darah. sperti halnya jika menstruasi.
Yang saya alami pada persalinan pertama adalah flek.
Kita lanjut ke kisah saya yah..

Walaupun sudah paham secara teori, persalinan anak pertama prosesnya biasanya berjalan lebih lama. Maksudnya dari awal tanda-tanda persalinan dimulai sampai akhirnya bayi lahir, bisa berjam-jam bahkan berhari-hari, namun tetap saja.. pengennya cepet-cepet sampai rumah sakit 😀 hehe
Tas bersalin sudah siap, suami siaga juga sudah siap. Jadilah waktu itu, pagi-pagi buta, menuju ke RSIA Hermina Jatinegara.
Beda deh rasanya, kalau datang ke RSIA dalam kondisi siap bersalin. Walaupun sebelum-sebelumnya rutin datang ke Rumah Sakit itu, tapi kali ini datang dan masuk dari pintu yang berbeda, suasana berbeda, rasanya juga beda. Berasa naik level :p

Pemeriksaan rutin dan masalah administrasi nggak usah diceritain ya. Yang pasti aja, pokoknya pasti di cek bukaan jalan lahir, cara manual. Biar bisa diperkirakan, masih lama atau sudah sebentar lagi.
Nah, waktu itu, ketika saya tiba di RS (dengan terburu-buru), ternyata proses persalinan baru bukaan 2.
Dengan target siap lahir itu bukaan lengkap “10”, maka bukaan “2′ itu… masih jauh lah, dari target ya. Apalagi itu persalinan pertama. Waaah, bisa besok baru lahiran deh.
Di sebelah saya saat itu malah ada yang sudah menginap sehari belum lahir juga, hehehe 😀
Tapi karena kondisi “sudah tipis” , maka oleh Pak Dokternya proses persalinan saya di bantu, dipercepat dengan pemberian induksi(nah ini saya lupa yang tipis apanya ya? plasenta atau permukaan atau apa).
Hihi… iyah, diinduksi. Proses persalinan pertama saya dipercepat dengan induksi. Iyaaa, induksi, yang kata orang-orang itu, kalau lahiran dengan induksi itu sakit banget. Hehe…, nggak juga ternyata. Mungkin karena dosis obat yang diberikan tidak banyak, jadi sakitnya masih bisa dinikmati. Benerr nggak sakit kok.
Mau tau bagaimana rasa sakitnya ketika menjelang persalinan???

Sakitnya Kontraksi Menjelang Persalinan

Kontraksi ketika menjelang proses persalinan sebenarnya merupakan tanda-tanda alami yang bisa di rasakan oleh ibu, dan bisa menjadi tolok ukur. Semakin dekat datangnya kontraksi, semakin sakit rasa kontraksi, berarti bukaan jalan lahir mustinya semakin besar.
Beruntung sekali, ketika hamil trimester terakhir saya menyempatkan diri mengikuti kelas persiapan persalinan dari RSIA. Walaupun singkat, tapi ada satu hal penting yang informasinya saya dapat dari sana:
Jangan mengkonsumsi “Rumput F*t*m*h”. Karena hanya akan memperhebat rasa sakit namun tidak membantu mempercepat bukaan jalan lahir, begitu penjelasannya.
Belakangan saya mulai paham, bagi sebagian orang, Rumput F*t*m*h itu merupakan minuman untuk melancarkan dan mempercepat proses kelahiran. Namun yang tidak diketahui banyak orang adalah apa yang terkandung dalam rumput fatimah, berapa dosis yang tepat untuk diberikan, dan kapan saat yang tepat pemberiannya.
Dengan pengetahuan yang minim, pemberian Rumput F*t*m*h sama saja dengan memberikan induksi dengan dosis yang tidak terkontrol. Jadi, jika ingin merasakan persalinan normal yang menyiksa dan sakitnya minta ampun…., silahkan minum Rumput F*t*m*h yah.

Tau kan, gosipnya, bagaimana rasanya melahirkan dengan diinduksi? hihi, iyah, sakit! Sakit banget! ITu bukan gosip, beneran sakit banget deh.
Tapi Alhamdulillah saya terbebas dari ketidak-tahuan, jadi hanya merasakan induksi ringan yang sakitnya juga tidak seberapa.
Nah, berdasarkan pengalaman saya, begini tahap-tahap kontraksi yang saya rasakan saat persalinan normal. Penjelasannya ala ibu-ibu yang tidak paham masalah medis yaaa 😀

1. Kontraksi tahap awal.

Rasanya…, hmmm.. seperti kontraksi-kontraksi yang biasa terjadi sebelum-sebelumnya, tidak sakit sama sekali, bahkan cenderung geli, dan rasanya “amazing”. Iya, bisa merasakan ada sesuatu yang hidup dan tidak berbahaya dalam perut itu, rasanya ….
Nah, ketika proses persalinan mulai, rasa kontraksi tahap awal ini juga sama, nggak sakit. hanya saja kemunculannya makin teratur, bisa tiap 1 jam sekali.

Nah, makin dekat jarak kontraksi, bukaan rahim juga makin lebar, dan sensasi yang dirasakan saat kontraksi juga makin kuat 😀
KOntraksi dengan rasa yang biasa-biasa saja ini bisa kita nikmati ketika pembukaan jalan lahir masih di di bawah 5. Walaupun makin kemari akan makin terasa sakit, tapi pasti masih bisa di nikmati deh..

2. Kontraksi tahap pertengahan.

Naaah…, ini niiih, masa-masa ketika kita makin tersadar kalau sebentar lagi akan melahirkan.
Yang tadinya ketika kontraksi masih bisa santai, masih bisa ketawa nyengir, masih bisa duduk, masuk ketahap ini mulai deh, hehehe.
Yang saya ingat sih, Kontraksi fase ini sudah nggak nyaman aja untuk duduk ketika kontraksi. Pokoknya posisi yang paling nyaman ketika bukaan 5 keatas itu ya.. berbaring miring, melungker menghadap ke kiri.

Kalau pada fase kontraksi tahap awal saya masih sanggup ke kamar kecil, turun dari tempat tidur dan membawa botol infus ke kamar kecil, nah.. ketika fase pertengahan ini, nggak sanggup deh 😀
Pokoknya paling nyaman ya berbaring melungker. Ke kiri atua ke kanan mustinya gak masalah, yang penting melungkernya itu.
Ngerti kan ya maksudnya berbaring melungker? meringkuk seperti ketika kita sakit perut. Biasanya inginnya kaki melipat ke depan dada, namun karena kondisi hamil dengan perut menggendut maksimal, ya.. kira-kira berusaha untuk seperti meringkuk deh 😀

Pada fase pertengahan ini, sebenarnya justru saat-saat yang paling menentukan kelancaran dan lama atau sebentarnya proses persalinan.
Saat ini kontraksi sudah semakin sering, dari tiap 30 menit sampai menjadi tiap 15 menit bahan lebih dekat lagi.
Nah, jika kita bisa tetap tenang, secara teori pembukaan jalan lahir akan terjadi tanpa kendala, dan bisa lebih cepat.
Masalahnya, namanya sedang menahan sakit kontraksi, siapa sih yang sanggup tenang? 😀
Hehehe..
Ada trick dan tips nya bu ibuuu 😉
Yang saya lakukan, berdasarkan teori yang saya baca sebelum-sebelumnya, yang penting dilakukan adalah, tidak mengejan ketika kontraksi. Bagaimana caranya? Hmm, begini.. semoga saya tidak salah ingat nih.
Jadi yang saya lakukan itu, begitu mulau tanda-tanda kontraksi akan terjadi, saya menenangkan diri dengan menarik napas panjang dan teratur.
Dan ketika kontraksi makin terasa sakit, cara menahan sakitnya dengan membuang napas seperti ketika senam BL hehe.. jadi ingat senam BL nih..
Dan sedikit usapan di punggung bagian bawah juga membantu meredakan rasa sakit lho. Apalagi kalau yang usap-usap suami sendiri yah…, walaupun hal itu tidak banyak membantu ketika kontraksi sudah sampai di bukaan 8 atau 9. Tapi kan teteeep, setidaknya ketegangan agak berkurang.

Yang paling saya ingat, dulu itu, saya sempet lho akhirnya bilang ke susternya. Minta pakai ILA. Eh nulisnya bener gak ya? ILA itu proses persalinan yang dibantu dengan obat, jadi rasa sakitnya kontraksi tidak begitu terasa. Hehe, ternyata ada caranya lho. Mungkin untuk memperkecil penderitaan ibu, ketika bersalin, atau untuk memperkecil resiko persalinan. Yang pasti cara dengan ILA itu di awal proses persalinan sudah dijelaskan, ditawari juga mau dengan ILA atau normal biasa saja. Dan saya saat itu milih normal alami biasa saja. Nggak pakai macem-macem. Cuma di induksi sedikittt.
Nah, pas itu kalau tidak salah ingat, bukaan sudah 7 atau delapan ya. Cepet deh, begitu bukaan 5, semua berjalan cepat sekali rasanya. BAru saja kontraksi berlalu 30 menit yang lalu, eh sudah mulai terasa akan kontraksi lagi :p
30 menit itu rasanya cepat sekali. Tapi yang namanya kontraksi, walaupun cuma 3 menit, tapi rasanya lamaaaaa banget deh.
Inget banget saya, saat itu sempet minta sama suster, “Saya ILA aja deh, suster.” Saking rasanya sakit ya.
Hehe, dan jawaban mba suster, dengan tenangnya, “Yah, bunda, kalau ILA sekarang sudah nggak bisa. Mustinya dari awal tadi.” Hehe… nyesek yah, ibaratnya mau nggak mau musgti menghadapi rasa sakit, dan tidak bisa pakai pain killer. Untungnya suster juga menenangkan, “Ini sebentar lagi bunda, sudah bukaan 8.”
Jadi ada secercah harapan, sakitnya tidak akan lama lagi berakhir deh.
Dan memang bener lho. Pokoknya, tidak perlu khawatir. Asalkan nggak pakai minum yang aneh-aneh, jamu-jamuan yang nggak jelas kandungannya. Ketika rasa sakit itu sudah makin tidak tertahan, itu artinya bukaan juga makin membesar. Dengan catatan…., berusaha tetap tenang, dan tidak mengejan ketika kontraksi.

3. Kontraksi tahap akhir.

Jreng jreng jreng JRENG!!!
Ini bagian yang paling seru nih.
Saya ceritakan detil yah, hehe.. semoga gak salah ingat.
Oiya, saya ulang lagi ya. Ketika kontraksi terasa mulai tidak tertahankan, nah biasanya itu sudah nggak lama lagi, dan bener-bener nggak lama lagi, bayi siap keluar. Yang penting diingat: tetang tenang dan jangan mengejan ketika kontraksi.
Dan benar saja lho.
Yang saya ingat tiba-tiba suster sibuk siap-siap alat-alat dll. Sakitnya rasa kontraksi ya, tetep sakit, tapi sudah tidak ada peningkatan rasa sakit lagi. Dah segitu ajah sakitnya, tidak menghebat. Entah apakah karena sayanya yang sudah pasrah, atau memang demikian adanya.
Yang pasti, tiba-tiba rasanya ingin buang air yah. beneran dah kebelet rasanya, pengen mengejan.
Yaa, kan malu lah ya, masa di atas tempat tidur gitu loh.
Tapi karena sama susternya disuruh ajah, gak apa-apa. Yah sudahlah. Saya sempet nanya juga, seingat saya, “Bener sus, gak apa-apa, disini aja?” saking ragunya gitu.. maunya turun ke kamar kecil dulu bentaran.
Yaah, karena disuruh di tempat tidur, ya, mau gimana lagi. Nggak saya tahan lagi deh 😀
Dan akhirnyaaaaa…

Hehe…, Ternyata keinginan mengejan itu memang salah satu prosesnya. Pyar!!! ketuban pecah. Basahlah. Persalinan makin dekat lagi.
Karena saya fokus untuk tidak mengejan ketika kontraksi, bukaan jalan lahir lebih cepat bertambah dan akhirnya bayi siap keluar. Tandanya ya itu tadi, keinginan utk buang air besar heheh… nggak terasa sakit kontraksi lagi loh. Beneran deh.
Setelah bukaan penuh, yang terasa ketika kontraksi itu bukan rasa sakit yang hebat lagi. Tapi rasa ingin mengejan yang hebat.

Begitu ketuban pecah, semua berjalan lebih cepat lagi sepertinya. Peralatan sudah selesai di atur, Suami saya kemudian dipanggil ikut masuk mendampingi saya selama proses persalinan, Dokter kandungan saya pun sudah siap tempur di ruang bersalin. JRENG JRENG!
Inilah tahap akhir kontraksi pada proses persalinan.
Tidak sakit lagi yaaa.
Yang saya rasakan pada tahap ini, setiap kontraksi itu rasanya ingin mengejan. dan memang itulah yang harus dilakukan.
Mengejan ketika dan hanya ketika kontraksi muncul.
Ketika tidak kontraksi?
Istirahatlah, tarik napas, atur posisi, senyum, tetap tenang, dan tetap semangat. 🙂
Saat-saat ini, walaupun sepertinya tidak terlalu letih, tubuh mengeluarkan banyak energi lho. Jadi jangan mogok makan ketika menunggu persalinan, ya. Walaupun menahan sakit kontraksi, makan mah tetep harus.

Cara Mengejan Saat Melahirkan.

Nah di tahap akhir kontraksi ini penting sekali kita paham bagaimana cara mengejan yang benar, agar persalinan tidak terlalu lama, bayi sudah keluar seutuhnya. Bagaimana posisi yang benar, kapan harus mengejan, dan bagaimana mengejan yang bisa memberikan dorongan maksimal?
Berikut tips dari saya, berdasarkan proses persalinan 3 anak-anak yah..

Membahas masalah posisi sebenarnya tidak ada panduan yang baku, bagaimana yang paling baik. Dan saya juga enggan yah, membahasnya 😀
Tapi nggak perlu kuatir, karena pasti akan di bantu oleh suster/bidan, agar bisa menemukan posisi yang nyaman. Yang penting untuk diingat, adalah, untuk tidak mengangkat bagian belakang tubuh ketika mengejan.
Ini tips yang saya dapat dari ibu saya saat itu. Tidak mengangkat bagian belakang tubuh. Jadi, posisi tubuh tetap menempel dengan pembaringan. Waaah… kalau panik, mana ingat ya? hehe.. itulah pentingnya untuk mengingatkan diri sendiri agar tetap tenang. Banyak cara untuk menenangkan diri, diantaranya dengan mengingat Allah.
Tujuannya apa, tidak mengangkat bagian belakang tubuh? Agar yang sobek tidak terlalu lebar :p

Oiya, sampai lupa, walaupun sebenarnya bisa saja lho, melahirkan tanpa jahitan. Tapi biasanya Dokter lebih memilih untuk melakukan inisiatif melebarkan jalan lahir, daripada kalau dibiarkan secara alami, eh ternyata sobek, menjahitnya malah susah karena sobekannya tidak lurus dan tidak terkendali 😀
Tapi jangan kuatir. Walaupun tanpa di beri obat bius, kita nggak akan merasakan kok, ketika jalan lahir di perlebar sedikit. Sudah mati rasa karena tekanan dari kepala bayi.
Tapi kalau berminat mencoba melahirkan tanpa jahitan, caranya juga ada kok. Biasanya kalau lahir di bidan atau dukun beranak, lebih alami. Resika hanya kalau sobek, jahitannya lebih berantakan aja hehehe. Tapi kemungkinan sobek juga bisa di minimalkan dengan perawatan selama kehamilan, seperti… mmm, gak usah dibahas ya, karena saya tidak praktek melahirkan tanpa jahitan 🙂

Yang sebaiknya tidak dilakukan juga adalah, mengejan sambil menutup mata. Jangan deh. Walaupun rasanya lebih fokus dengan menutup mata, tapi nanti otot mata juga ikut kerja.
Yang sebaiknya ya, tetap melihat dan tetap terjaga ketika mengejan.

Nah, saat persalinan, kontraksi yang datang sudah tidak terasa sakit lagi lho ya. Yang dirasakan ketika kontraksi adalah keinginan untuk mengejan. Yang harus kita lakukan ya, cuma itu. mengejan ketika kontraksi. Saat kontraksi bayi dalam perut terdorong keluar, dan kita pun ikut membantu dengan mengejan agar proses keluarnya bayi menjadi lebih cepat.
Dalam kondisi normal, proses keluarnya bayi yang agak meletihkan hanya mengejan ketika di awal saja. ketika berusaha mengeluarkan kepala bayi. Begitu kepala bayi sudah keluar semua, langsung, serasa ramai lancar… bayi keluar dan suasana langsung ceria, ketegangan berkurang, suami tersenyum, dokter dan suster juga riuh terdengar lega 😀

Tapi jangan buru-buru istirahat lah, karena proses persalinan belum sepenuhnya berakhir. Masih harus mengejan sekali lagi, untuk mengeluarkan plasenta bayi. Caranya juga sama, mengejan ketika kontraksi muncul, Dan biasanya keluarnya juga gampang banget. Ya iyalah, sebelumya yang keluar segede bayi, kalau cuma sebongkahan plasenta ya nggak ada rasanya :p
Dan setelah plasenta keluar, dokter mulai melakukan penjahitan. Iya, yang tadi di lebarkan langsung dijahit kembali. Tanpa bius juga. Dan tidak perlu kuatir, karena tidak sakit sama sekali. Masih mati rasa. 🙂

Pasca Persalinan

Apa yang harus dilakuakn pasca persalinan?
Istirahat. Itu saja. makan minum seperti biasa. Dan segera mulai berlatih kegel yaaa, agar proses pemulihan jahitan lebih cepat. Sudah tau kan latihan Kegel itu seperti apa, bagaimana caranya? Ini penting niiih, untuk wanita 😀
Itu saja yang.
Nanti kita bahas masalah Blue Baby yah.., kapan-kapan kalau mood lagi.
Kalau ternyata kisah saya bermanfaat, banyak yang menghendaki, saya masih punya dua kisah persalinan lagi, yang cerita agak berbeda 🙂
Mau?

PS. Maaf, tidak ada foto yang sesuai isi artikel nih :p Nanti saya carikan foto bayi pertama saya ajah yaaa 😀